August 03, 2009 3:00 PM

Media Sosial Mengakibatkan Dehumanisasi

Social Media LandscapeImage by fredcavazza via Flickr

Ini bukan tuduhan, akan tetapi lebih merupakan pendapat. Ini mengacu kepada semakin maraknya pemakaian media sosial seperti Facebook, Twitter, MySpace, Friendster, Friendfeed, YouTube, Flickr, LinkedIn, dan sebagainya yang diakses melalui berbagai device baik PC dan mobile-device.

Generasi muda menghabiskan banyak waktu di sana. Bahkan pekerja kantor memakai berjam-jam waktunya untuk bermain media sosial itu. Bahkan cenderung menimbulkan kecanduan / adiktif. Orang tidak banyak lagi saling bertemu fisik, cukup melalui media digital yang maya dan semu.

Salah satu kasus yang menghebohkan beberapa waktu lalu adalah tewasnya Megan Gillan yang bunuh diri akibat mengalami bullying (ejekan) di situs sosial Bebo.

Salah satu pendapat muncul dari wawancara harian The Sunday Telegraph dengan Archbishop (kepala gereja Katolik di Inggris) Vincent Nichols yang berkomentar ketika membahas kasus Megan Gillan.

Disebutkan bahwa situs-situs media sosial itu membawa anak-anak muda untuk membangun "hubungan semu sesaat" yang membawa mereka tidak dapat mengatasi persoalan ketika jaringan sosial mereka kolaps. Internet dan mobile-device disebutkan merupakan komunitas "dehumanisasi".

Juga dikatakan tentang kehilangan loyalitas dan naiknya individualisme di kalangan masyarakat Inggris yang dia temui dalam komunitas yang dilayaninya.

Dia juga mengungkapkan sebuah contoh para pemain sepak bola yang beraksi seperti "orang bayaran" dengan begitu mudahnya memutuskan kontrak untuk berpindah klub demi mencari bayaran lebih tinggi. Serta mengekspresikan ketakutannya akan gerakan untuk melonggarkan hukum atas bunuh diri dengan bantuan (seperti dalam kasus euthanasia).

Dia mengatakan bahwa hubungan sosial sudah diperlemah dengan menurunnya pertemuan face-to-face dan meningkatnya percakapan dengan telepon dan pesan singkat.

"Saya berpikir bahwa pemakaian berlebihan atas SMS dan email yang eksklusif berarti bahwa sebagai sebuah masyarakat sosial kita kehilangan beberapa kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal yang diperlukan untuk hidup bersama dan membangun sebuah komunitas."

"Kita kehilangan kemampuan sosial, kemampuan interaksi manusia, bagaimana membaca perasaan orang, membaca bahasa tubuh orang, bagaimana belajar bersabar sampai momen yang tepat untuk membuat sebuah keputusan."

"Pemakaian ekslusif yang terlalu banyak atas informasi elektronik membuat dehumanisasi di mana kemanusiaan itu sangat, sangat penting sebagai bagian dari kehidupan komunitas dan hidup berdampingan."

Archbishop juga mengkritik situs-situs jaringan sosial itu sebagai meninggalkan anak-anak dengan miskin pertemanan.

"Facebook dan MySpace mungkin memberikan kontribusi kepada komunitas, tapi saya kuatir mengenai hal itu. Itu bukan komunikasi yang akrab jadi tidak akan membangun komunitas yang akrab."

Dia juga mengingatkan bahwa situs-situs itu memberi kontribusi kepada tren dari anak-anak muda yang mementingkan "kuantitas atau jumlah teman" daripada kualitas pertemanan.

"Di antara anak-anak muda seringkali faktor kunci dalam bunuh diri adalah trauma atas hubungan yang semu."

Itu merupakan sindrom "semua" atau "tidak sama sekali" yang harus Anda miliki dalam usaha untuk mengungkapkan identitas, "mengkoleksi" teman di mana Anda dapat berbicara dan bahkan membanggakan diri. (Bicara yang kadang hanya satu arah.)

Persahabatan itu bukan komoditas, persahabatan adalah sesuatu yang berupa upaya keras dan bertahan lama selama hubungan itu benar.


Berikut sebuah contoh komentar dari seseorang yang memilih tidak memakai Facebook:

"Am I the only one who's happy if (I use if, because it is unlikely to happen) Facebook is not allowed?

Because of the narcissistic, self-centered, always-wanting-to-be-"exist" qualities of users are appealling. A lot of my friends are now on Facebook almost 24/7. They stay connected to mobile FB chat ALL THE TIME using smartphone.

It's disgusting (why do you change status 10x a day? who wants to know all about you ALL THE TIME?). And it's time wasting... for social networking? Oh come one y'all know most of the time users just graze others' profiles for hours..."


"Apakah saya satu-satunya orang yang akan bahagia seandainya Facebook itu dilarang? Karena kualitas narsistik, egois, sifat selalu ingin eksis dari para pemakai FB yang selalu muncul. Banyak teman saya yang memakai Facebook hampir 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Mereka selalu terhubung ke FB memakai smartphone.

Itu menjijikkan (mengapa Anda harus mengubah status 10 kali sehari? Siapa yang ingin tahu semua hal tentang diri Anda setiap waktu? Itu semua pemborosan waktu.. untuk jaringan sosial? Oh, ayolah Anda semua tahu banyak waktu yang terpakai hanyalah untuk menelusuri profile orang-orang lain selama berjam-jam."


Namun, semuanya harus kembali kepada kita sendiri untuk menyadari bahwa teknologi harusnya membuat pribadi kita menjadi lebih positif, bukan sebaliknya. Pembatasan diri harus dilakukan sebagai bentuk pertanggung-jawaban sosial kita.

Serta juga harus bersikap "tidak diperbudak oleh teknologi, tetapi manusia yang harus memanfaatkan teknologi untuk tetap mencegah jatuhnya kemanusiaan yang alami, dan untuk kemaslahatan kehidupan."

Sumber: Mashable!, The Telegraph.



Reblog this post [with Zemanta]

Related Posts by Categories

More related-posts: See Categories on left menu.

0 comments:

Post a Comment

This is a DOFOLLOW blog. URL in your comment will be your backlink.