August 04, 2009 6:03 AM

Robot Militer Pembunuh

U.S. Customs and Border Protection (CBP) Unman...Image via Wikipedia

Professor Noel Sharkey dari University of Sheffield mengatakan kuatnya dorongan untuk lebih banyak memakai teknologi robotik di medan perang, dapat membahayakan penduduk sipil.

Teknologi AI (Artificial Intelligence) yang mampu membedakan antara teman dan musuh paling sedikit masih butuh waktu 50 tahun lagi.

Militer AS untuk pertama kalinya menyinggung masalah etis dalam rencana mereka, "robot yang dapat memutuskan dimana harus membunuh, siapa yang dibunuh dan kapan membunuh menempati prioritas tinggi dalam semua agenda militer".

Professor Sharkey adalah ahli AI dan robotik yang sudah sejak lama menaruh perhatian pada isu psikologi jarak jauh, yang harus dijalani oleh operator yang menjadi pilot UAV (unmanned aerial vehicle). Di mana jarak antara operator dengan medan perang bisa mencapai ribuan mil.

"Orang-orang yang menjadi pilot jarak jauh itu duduk seharian di pusat kendali, kemudian malam hari mereka pulang ke rumah dan makan malam dengan keluarga mereka."

Berbeda dengan perang sungguhan, di mana prajurit berada di medan perang dan makan ransum di basis militer. "Ini jenis perang yang aneh, dan akan mengubah karakter perang sangat dramatis."

Kemajuan teknologi tidak membantu membatasi kerusakan ikutan. Antara Januari 2006 sampai April 2009, ada 60 serangan "drone plane" seperti ini di Pakistan yang membunuh 14 orang Al-Qaeda, akan tetapi 687 orang sipil juga ikut tewas.


Robot tidak akan dapat melakukan dua dalil dasar dalam perang: membedakan teman dan musuh, serta proporsionalitas dalam menentukan jumlah kekuatan yang rasional untuk mencapai keunggulan militer.

Manusia sekalipun kadang sulit membedakan mana teman dan musuh, mana orang sipil dan mana yang bukan. Apalagi robot yang "jauh lebih bodoh" dalam hal ini. Tentang proporsional tidak ada software yang dapat membuat robot menjadi proporsional. Itu sebuah keputusan yang dibuat manusia memakai nalar. Tidak ada kalkulus proporsionalitas.

Aturan yang sekarang dipakai di Inggris, melarang pemakaian kekuatan mematikan tanpa intervensi manusia.

Nigel Mills, direktur teknologi dirgantara di kontraktor pertahanan QinetiQ yang membuat sejumlah UAV dan robot darat, mengatakan bahwa dalam membangun otonomi sistem robot memerlukan jaminan akan pentingnya campur tangan manusia.

"Semakin otonomis sebuah sistem, lebih banyak usaha yang harus dilakukan dalam interface antara manusia dengan mesin, berdasarkan aturan itu".

"Otonomi sepenuhnya, dimana Anda mengirim UAV pada sebuah misi dan Anda tidak berinteraksi dengannya, tidak kompatibel dengan aturan yang dipakai sekarang. Sehingga kami tidak bekerja pada sistem semacam itu."

Bulan Juli, USAF (US Air Force) mempublikasikan rencana 2009-2047 "Unmanned Aircraft Systems Flight Plan", yang memprediksi pemakaian pesawat tempur yang sepenuhnya otonomis.

Dokumen itu menyarankan agar manusia memainkan lebih banyak peran dalam "memonitor pengambilan keputusan", bukannya untuk "mengambil keputusan"

Kemajuan dalam AI akan memungkinkan sistem untuk mengambil keputusan tempur dan beraksi dalam batasan legal dan kebijakan, tanpa memerlukan input dari manusia.

Bagaimanapun hal ini menimbulkan pertanyaan legal dan etika. "Diskusi etika dan kebijakan harus dilakukan supaya dapat memandu pembangunan kapabilitas UAS masa depan."

Professor Sharkey juga mengingatkan tentang sedang dibangunnya sebuah mesin pembunuh otonomis, yaitu Harpy buatan Israel. Harpy berupa sebuah UAV otonomis tanpa intervensi manusia. Dia menekankan bahwa debat internasional diperlukan sebelum pembangunan lebih lanjut dari robot pengambil keputusan ini.



Reblog this post [with Zemanta]

Related Posts by Categories

More related-posts: See Categories on left menu.

0 comments:

Post a Comment

This is a DOFOLLOW blog. URL in your comment will be your backlink.